Showing posts with label SBKXII. Show all posts
Showing posts with label SBKXII. Show all posts

Saturday, 30 January 2016

Prinsip Desain


Dalam proses kreasi seorang pedesain biasanya memerlukan
pengetahuan dasar tentang keselarasan, kesebandingan, irama,
keseimbangan dan penekanan.
1. Keselarasan (harmony)
Dalam suatu desain adalah keteraturan tatanan di antara
bagian-bagian desain, yaitu susunan yang seimbang, menjadi
satu kesatuan yang padu dan utuh, masing-masing saling
mengisi sehingga mencapai kualitas yang disebut harmoni.
Faktor keselarasan merupakan hal utama dan penting dalam
penciptaan sebuah karya desain.
2. Kesebandingan (proportion)
Merupakan perbandingan antar satu bagian dengan bagian
lain, atau antara bagian-bagian dengan unsur keseluruhan secara
visual memberikan efek menyenangkan, artinya tidak timpang
atau janggal baik dari segi bentuk maupun warna.
3. Irama (rythme)
Dalam pengertian visual dapat dirasakan karena ada faktor
pengulangan di atas bidang atau dalam ruang, yang menyebabkan
timbulnya efek optik seperti gerakan, getaran, atau perpindahan
dari unsur yang satu ke unsur yang lain. Faktor irama ini
kerap kali memandu mata kita mengikuti arah gerakan dalam
karya desain.
4. Keseimbangan (balance)
Dalam penciptaan desain adalah upaya penciptaan karya
yang memiliki daya tarik visual. Kesimbangan pada unsur dan
bagian desain, maupun pada keindahan dan fungsi desain.
Keseimbangan dapat memberikan efek formal (simetri),
informal (asimetri), atau efek statik (piramid) dan dinamik
(bola) efek memusat, memencar, dan lain sebagainya. Jadi
faktor keseimbangan bertalian dengan penempatan unsur
visual, keterpaduan unsur, ukuran, atau kehadiran unsur pada
keluasan bidang-ruang terjaga bila struktur rupa serasi dan
sepadan, dengan kata lain bobot tatanan rupa memberi kesan
mantap dan kukuh.
5. Penekanan (emphasis)
Dalam merealisasi gagasan desain, adalah penentuan faktor
utama yang ditonjolkan karena kepentingannya, ada faktor
pendukung gagasan yang penyajiannya tidak perlu mengundang
perhatian, meski kehadirannya dalam keseluruhan desain tetap
penting. Prinsip penekanan dapat dilakukan dengan distorsi

ukuran, bentuk, irama, arah, warna kontras, dan lain-lain.
Read more

Unsur Visual Seni


a. Garis
Titik tunggal dalam ukuran kecil memiliki tenaga yang
cukup untuk merangsang mata kita dan dapat berperan sebagai
‘awalan’. Apabila titik digerakkan maka dimensi panjangnya
akan tampak menonjol dan sosok yang ditimbulkannya disebut
‘garis’. Garis dapat berupa goresan yang kita buat di atas sebuah
bidang, tetapi garis dapat pula mewakili bekas roda, tiang
bambu, kawat, pancaran cahaya, ruang antara dua bangunan
atau dinding, jalan yang melintasi kota, sungai, kontur tanah
yang berkelok-kelok, kontur pegunungan, bangunan, batas dinding dengan lantai, dan seterusnya.
Garis dapat memberikan kesan gerak, ide, atau simbol. Pada
karya seni lukis garis dapat mengekspresikan suasana emosi
tertentu, seperti perasaan bahagia, sedih, marah, teratur, kacau,
bingung, dan lain sebagainya. Secara fisik garis dapat dibuat
tebal, tipis, kasar, halus, lurus, lengkung, berombak, memanjang,
pendek, putus-putus, patah-patah dan banyak lagi. Unsur garis
juga dapat membangun asosiasi kita kepada kesan tertentu,
misalnya garis horisontal kesannya tenang, tidak bergerak, diam,
dan lebar. Sementara garis vertikal kesannya agung, stabil, tinggi,
sedangkan garis diagonal kesannya, jatuh, bergerak.
Garis adalah salah satu elemen yang penting dalam seni
lukis. Pedoman seni yang penting dan ampuh sebagaimana
juga yang terdapat dalam hidup, adalah makin nyata, tajam
dan kuat garisnya, makin sempurna hasil seninya. Garis dapat
diciptakan melalui (1) kontur, garis paling luar dari benda yang
dilukis, (2) Batas pemisah antara dua warna atau cahaya terang
dan gelap, (3) lekukan pada bidang melingkar atau memanjang
lurus, (4) batas antara dua tekstur yang berlainan.
b. Warna
Secara fisika warna ditimbulkan oleh sinar matahari, bila
kita sorotkan sinar matahari ke sebuah kaca prisma maka sinar tersebut akan terurai menjadi beberapa sinar warna, yang
disebut spektrum warna. Setiap spektrum mempunyai kekuatan
gelombang yang kemudian sampai pada mata kita, sehingga kita
dapat melihat wama tertentu.
Pada alam terdapat dua jenis penerima cahaya, yakni sebagai
pemantul dan sebagai penyerab cahaya. Secara fisiologi stimulasi
cahaya memantulkan warna suatu objek sehingga merangsang
mekanisme mata kita, kemudian rangsangan tersebut disalurkan
melalui syaraf optik ke otak, sehingga kita dapat mengenali
warna itu. Secara psikologis telah terbukti bahwa warna dapat
mempengaruhi kegiatan fisik maupun mental kita. Reaksi kita
terhadap wama bersifat instingtif dan perseorangan, karenanya
sensitivitas setiap orang juga berbeda kepada warna-warna.
Pada berbagai aliran seni lukis dalam sejarah seni rupa telah
dikenal manifenstasi tatawarna tertentu, seperti skema warna
klasik, skema warna Rembrandt, dan lain sebagainya.
c. Sifat Warna
Dalam teori warna dikenal ada tiga sifat optis, optical
property, yaitu: hue, value, dan saturation. Hue adalah tingkat
kepekatan wama, misalnya merah, merah oranye, atau hijau, biru,
biru keunguan dan seterusnya. Yang dimaksud dengan value
adalah fenomena kece-merlangan dan kesuraman wama. Nilai
rendah adalah warna yang cenderung suram atau kegelapan,
sementara nilai tinggi adalah kecenderungan warna yang
terang dan cemerlang. Misalnya gejala demikian dapat kita
lihat pada skala derajat warna abu-abu dari hitam ke putih.
Sedangkan saturation adalah intensitas nada warna untuk
menunjukkan wama-wama menyala, dan warna-warna yang
suram. Semakin murni penggunaan warna semakin tinggi
intensitasnya, sebaliknya semakin tidak murni penggunaan
warna semakin rendah intensitasnya. Pada tahun 1940-an seni
lukis Affandi dominan menggunakan warna-wama suram atau
kusam, kemudian lukisannya berkembang kepenggunaan warnawama
yang cerah. Lihat Gambar 2.2 (halaman 11), Karya Affandi
Potret Diri dan Matahari, 1977, yang menggunakan warna-warna merah, oranye, kuning dengan warna latar belakang yang terang
abu-abu keputihan.
Read more